JejakKekerasan FPI di Indonesia

July 1st, 2008

Khayalayak ramai tentunya sudah pasti tahu bahwa tindak kekerasan yang dilakukan oleh komplotan Front Pembela Islam atau FPI, tidak hanya terbatas pada penyerangan terhadap massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan atau AKKBB, yang sedang memperingati Hari Kelahiran Pancasila, pada tanggal 1 Juni 2008. Jejak-jejak darah keberingasan dan kebiadaban mereka tercecer dalam sejarah kelam bangsa Indonesia. Saya sejak dulu muak terhadap aksi-aksi mereka yang biadab, tak lebih dari binatang tinimbang mengaku sebagai anak-anak Adam.

Berikut beberapa catatan tindak kekerasan yang dilakukan oleh gerombolan tersebut selama 8 tahun terakhir :

Tahun 2001

  • 27 Agustus, anggota FPI melakukan unjuk rasa di gedung MPR/DPR menuntut pemberlakuan kembali Piagam Jakarta, berakhir dengan kericuhan.
  • 9 Oktober, massa FPI merobohkan barikade kawat di gedung Kedubes Amerika Serikat, di jalan Merdeka, Jakarta.
  • 15 Oktober, kelompok FPI bentrok dengan empat batalyon Polda Metro Jaya, di markas Jl Petamburan III, Jakarta Barat.
  • 7 November, bersama Laskar Ahlusunnah, PFI bentrok dengan mahasiswa di PN Jakarta Selatan.

Tahun 2002

  • 15 Maret, massa FPI melakukan perusakan terhadap sebuah diskotik dibilangan Plaza Hayam Wuruk dan Mekar Jaya Billiard, didaerah Karet, Jakarta.
  • 24 Maret, laskar FPI menyerbu diskotek New Star di Ciputat, Jakarta.
  • 2 Mei, anggota FPI melakukan penggerebekan paksa terhadap sebuah gudang, yang dicurigai sebagai tempat penyimpanan minuman keras, di Petamburan, Jakarta.
  • 26 Juni, komplotan FPI berunjukrasa di Gedung DPRD DKI Jakarta, menuntut penutupan tempat hiburan malam. Aksi ini berbuntut perusakan sejumlah kafe di Jalan Jaksa dengan tongkat bambu.
  • 4 Oktober, massa FPI melakukan sweeping terhadap tempat-tempat hiburan malam di Jakarta.

Tahun 2003

  • Dedengkot FPI, Habib Rizieq Shihab, pada tanggal 8 April, ditahan oleh pihak Polda Metro Jaya. Ia dikenai vonis hukuman penjara selama 7 bulan dan dibebaskan pada tanggal 19 November.

Tahun 2004

  • 3 Oktober, antek-antek FPI menyerbu sekolah Sang Timur.
  • 22 Oktober, kembali antek-antek FPI melakukan pengrusakan disejumlah kafe didaerah Kemang, Jakarta.
  • 24 Oktober, anehnya, FPI meminta maaf kepada Kapolda Metro Jaya.
  • 28 Oktober, massa FPI melakukan sweeping dibulan Ramadhan.
  • 14 Desember, sejumlah anggota FPI bentrok dengan satpam JICT (Jakarta International Container Terminal)

Tahun 2005

  • 27 Juni, anggota FPI menyerang Kontes Miss Waria di Gedung Sainah Jakarta
  • 5 Agustus, antek-antek FPI menyerbu markas Jaringan Islam Liberal di Utan Kayu Selatan, Jakarta.
  • 20 Agustus, anak-anak TK Tunas Pertiwi diancam oleh antek-antek FPI untuk segera menghentikan Kebaktian. Selain itu di Jawa Barat, komplotan tersebut juga melakukan penutupan paksa terhadap sejumlah gereja.
  • 27 September, FPI memaksa agar pameran Foto Urban Culture di Gedung BI, Jakarta, ditutup.
  • 16 Oktober, FPI mengusir jemaat sebuah gereja yang sedang melakukan kebaktian di Jatimulya Bekasi Timur. Aksi ini kembali diulangi pada tanggal 23 Oktober.
  • 18 Oktober, FPI berunjuk rasa di Polres Metro Jakarta Barat sambil mengancung-acungkan senjata tajam.
  • 19 November, FPI menyerbu pemukiman Jamaah Ahmadiyah di Kampung Neglasari, Desa Sukadana, Kecamatan Campaka, Cianjur.

Tahun 2006

  • 19 Februari, aksi anarkis mewarnai unjuk rasa massa FPI di Kedubes Amerika Serikat.
  • 14 Maret, anggota FPI membaut kericuhan di Pendopo Kabupaten Sukoharjo.
  • 12 April, massa FPI menyerang dan merusak Kantor Majalah Playboy.
  • 20 Mei, FPI menggerebek 11 tempat hiburan di Pondok Gede.
  • 21 Mei, komplotan FPI menyegel paksa Kantor Fahmina Institut.
  • 23 Mei, antek-antek FPI mengusir Gus Dur dari Forum Lintas Etnis dan Agama di Purwakarta Jawa Barat.
  • 25 Mei, FPI bekasi mengepung kantor Polres Metro Bekasi.

Tahun 2007

  • 27 Maret, dengan biadab, massa FPI memukuli ibu-ibu anggota organisasi Rakyat Miskin Kota yang berunjuk rasa di Hotel Shangrilla Jakarta.
  • 29 Maret, dengan beringas komplotan FPI menyerbu massa Papernas yang rata-rata kaum perempuan dikawasan Dukuh Atas, dengan tuduhan menyebarkan paham komunisme.
  • 1 Mei, anggota FPI menyerang Aliansi Rakyat Pekerja Yogyakarta (ARPY) di depan museum Serangan Oemoem 1 Maret. Mereka menuduh ARPY adalah underbow dari Papernas.
  • 11 November, antek-antek FPI membakar Kantor Majelis Taklim Nurul Yakin di Yogyakarta.

Pancasila dan Pengaburan Sejarah 1 Juni 1945

June 17th, 2008

Sejarah membuktikan bahwa NKRI terbentuk dari Bangsa Indonesia yang lahir terlebih dahulu yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928 dan kemudian membentuk Negara pada tanggal 18 Agustus 1945. Sebelum Bangsa Indonesia membentuk Negara Republik Indonesia terlebih dahulu Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan pancasila diletakan sebagai Dasar Indonesia Merdeka pada tanggal 1 Juni 1945.

Peletakan Pancasila sebagai Dasar Indonesia Merdeka oleh Bung Karno melalui pidatonya yang berapi-api di hadapan siding BPUPK, mengindikasikan bahwa Pancasila adalah sifat Bangsa, sehingga kemudian Pancasila menjadi Sumber dari Segala Sumber Hukum di wilayah NKRI yang memaknakan Pancasila pun akan tumbuh menjadi Keyakinan Standar Bangsa Indonesia yang distandarkan daru keyakinan Bangsa Indonesia yang beraneka ragam oleh Hukum yang pasti tetap dan dapat diterima oleh siapapun juga yaitu komitmen untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli sebagai amanat Sumpah Pemuda.

Apabila Pancasila telah menjadi Keyakinan Standar yang memaknakan Pancasila adalah Falsafah Bangsa Indonesia atau Pandangan Hidup seluruh anak Bangsa ini, maka pada saat mana Bangsa Indonesia bersikap, akan mencerminkan usaha keberpihakan Bangsa Indonesia kepada sila-sila yang termaktub didalam Pancasila. Sehingga ketika sikap keberpihakan ini telah tumbuh maka sangat dipastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia akan terwujud.

Namun seiring dengan berjalannya sejarah sikap-sikap pancasilais ini tidak pernah terlihat didalam keseharian anak Bangsa Indonesia, Pancasila hanya sekedar menjadi bacaan pada setiap pelaksanaan upacara bendera di sekolah-sekolah . Hal- hal yang demikian ini terjadi karena Pancasila, semenjak diletakan sebagai Dasar Indonesia Merdeka pada tanggal 1 Juni 1945 oleh para pendiri Bangsa, sampai hari ini belum pernah ditetapkan, terbukti dengan masih diperingatinya tanggal 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila, padahal sebenarnya sebelum momentum 1 Juni 1945 pun nilai-nilai Pancasila telah ada dan telah tumbuh serta mengakar semenjak zaman nenek moyang kita, yaitu jauh sebelum Bangsa Indonesia dilahirkan.

Oleh karena itu, jikalau sampai saat ini Bangsa Indonesia masih memperingati tanggal 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila, maka dapat dikatakan ini adalah suatu proses pengkaburan sejarah. Bahkan Bung Karno sendiri pun tidak pernah menyatakan dirinya sebagai pencipta Pancasila, karena menurut beliau Pancasila tersebut telah ada semenjak ribuan tahun yang lalu, Bung Karno mengatakan bahwa dirinya hanya menggali Pancasila dari serpihan-serpihan yang tersisa dan kemudian bersama-sama dengan pemimpin yang lain meletakan Pancasila sebagai Dasar Indonesia Merdeka pada tanggal 1 Juni 1945.

Maka dari itu seharusnya Bangsa Indonesia menyatakan dan memperingati tanggal 1 Juni sebagai hari Pancasila Dasar Indonesia Merdeka sehingga peran dan fungsi Pancasila dapat berjalan sebagaimana mestinya, yaitu Pancasila menjadi sifat Bangsa kemudian menjadi Sumber dari Segala Sumber Hukum di wilayah NKRI dan Pancasila dapat menjadi Falsafah Bangsa Indonesia yang menumbuhkan sikap keberpihakan terhadap sila- sila Pancasila, sehingga Pancasila pun mampu memberi ukuran atau dimensi bagaimana seharusnya rakyat Indonesia menjalani Kehidupan berbangsa dan bernegara, Maka pada akhirnya amanat sumpah pemuda yaitu Komitmen untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli sebagai tujuan Bangsa Indonesia lahir, merdeka dan membentuk Negara dapat tercapai karena Pancasila merupakan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
Sekian

Jakarta, 13 Juni 2008

Muhammad Wildan
Gerakan Mahasiswa Jakarta Raya
(GEMAJAYA)

Sebenarnya ini adalah komentar yang dikirim oleh saudara Muhammad Wildan. Karena terlalu panjang, dan juga menarik untuk dibaca, jadi saya posting tulisan ini.

Bahasa Indonesia untuk kata “Pagerank”

June 4th, 2008

Beberapa teman menanyakan tentang keputusan saya memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar di blog saya ini. Terutama menyangkut beberapa kata asing yang masih saya gunakan pada kolom “sidebar”.

Maaf saya bukanlah seorang “web programmer”. Beberapa kata asing tersebut kebetulan berada pada plugins yang saya gunakan. Saya tidak mengetahui cara untuk mengubahnya. Otak saya tidak bisa memahami rangkaian sastra javascript dan PHP yang ada didalamnya. Bila anda mengerti, tolong beritahukan caranya.

Khusus mengenai kata “Pagerank”, haruskah hal ini saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Bila saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ada beberapa kemungkinan yang bisa saya pergunakan, yakni :

  1. Peringkat/Rangking Halaman;
  2. Peringkat/Rangking Laman;
  3. Peringkat/Rangking Pagina; atau
  4. Peringkat di Google menurut Lary Page

Menurut anda, kira-kira kalimat yang mana yang harus saya pergunakan?

Tapi sejauh ini, saya memang lebih memilih menggunakan kata “pagerank”. Tentu ada sebabnya.

Kata “page” pada “pagerank” tidak ada kaitannya sama sekali kata “page” dalam bahasa Inggris yang berarti halaman ataupun pagina dalam bahasa Indonesia. Kata “page” dalam “pagerank” tersebut diambil nama belakang salah seorang karyawan Google yang menemukan perangkat lunak untuk menentukan peringkat sebuah situs. Nama karyawan tersebut adalah Lary Page.

Bagaimana sistem kerja perangkat lunak yang disebut “pagerank” tersebut untuk menentukan peringkat, mohon jangan menanyakannya pada saya. Karena saya juga tidak terlalu mengerti.

Kenapa Selalu Ada Seremoni?

June 1st, 2008

Pada tulisan saya sebelumnya, saya bercerita tentang kesibukan yang membatasi kegiatan menulis untuk blog ini, yakni pesta pernikahan sepupu saya. Heran, kenapa orang-orang kita selalu menyibukkan diri dengan acara seremonial semacam ini? Kenapa uang yang seharusnya lebih baik ditabung untuk kepentingan masa depan anak-anak mereka kelak, harus dihamburkan demi sebuah pesta?

Apalah artinya sebuah pesta pernikahan yang semarak bila kelak nanti sang mempelai tak mampu untuk menyekolahkan anak-anak mereka kejenjang perguruan tinggi? Apalah artinya sebuah pesta yang meriah bila kelak nanti sang mempelai tak mampu membayar biaya operasi rumah sakit ketika anak-anak mereka sakit?

Saya jadi teringat pada sebuah kisah yang dialami oleh satu pasangan yang ada didesa saya. Dulu ketika mereka menikah, usaha orangtua si suami sedang dalam masa jayanya. Saya ingat, pada upacara pernikahan mereka, ada sekitar 15 ekor babi disembelih untuk dijadikan “Balesan” dan juga makanan suguhan bagi para tamu dan undangan yang datang. Bayangkan saja, untuk daging babi saja mereka menghabiskan sekitar 10 juta rupiah dengan standar harga dimasa itu.

Ditahun 1997, ketika negara ini dilanda krisis moneter, usaha keluarga mereka mengalami kebangkrutan. Saat saya bertemu dengan si suami beberapa waktu lalu, saya bertanya, bagaimana kabar anak-anaknya? Sudah kelas berapa? Dan nanti bila sudah lulus SMU hendak dikuliahkan dimana? Katanya anaknya yang pertama sekarang sudah kelas 1 SMP sekelas dengan adik bungsu saya. Anak yang kedua akan segera menginjak bangku SMP, sedangkan yang ketiga baru kelas 3 SD.

Ya begitulah hidup. Terkadang kita lebih suka menghambur-hamburkan sesuatu daripada berpikir untuk menyimpannya demi kepentingan dimasa depan. Memang pernikahan mungkin hanya sekali seumur hidup seseorang. Tapi kelak sebagai orangtua kita akan memikul tanggungjawab untuk menjamin kehidupan dan pendidikan yang berkualitas bagi anak dan cucu kita kelak dimasa depan. Jangankan dalam lingkup sebuah keluarga, dalam cakupan yang lebih luas, berapa banyak acara seremonial yang diselenggarakan oleh aparatur negara dan pemerintahan kita? Adakah itu menghasilkan sesuatu yang positif bagi bangsa kita, sehingga negara ini tidak terpuruk seperti sekarang ini? Adakah itu terlihat bermanfaat selain hanya menghambur-hamburkan uang negara? Kalau sudah lebih besar mudarat tinimbang manfaatnya, kenapa itu masih terus dibiarkan berlanjut? Dan kenapa pula kita diam membutakan mata melihat hal semacam ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

Pesta Pernikahan Adat Bali

May 29th, 2008

Sudah beberapa minggu saya jarang memasukkan tulisan baru kedalam weblog ini. Bukan karena malas menulis, tapi semata dikarenakan oleh kesibukan dikampung halaman. Tanggal 26 Maret 2008 kemarin sepupu, anak dari adik perempuan bapak, saya menikah. Terhitung sejak tanggal 16 Maret 2008, saya diajak urun rembug mempersiapkan upacara pernikahan. Mulai dari konsep, menyebarkan undangan, dekorasi, masalah makanan, hingga masalah meminang mempelai perempuan.

Kebetulan sang mempelai wanita berasal dari Surabaya, jadi saya, yang pernah lama menetap di Surabaya, terpaksa ikut serta dalam rombongan yang bertugas meminang mempelai perempuan. Lagipula, saya yang pertamakali mempertemukan mereka berdua. Saya jugalah yang mengantar sepupu saya kerumah sang mempelai perempuan untuk pertamakali.

Sebenarnya tidak hanya sepupu saya saja yang menikah pada tanggal 26 tersebut. Tercatat ada sembilan pasangan pengantin lain yang melaksanakan upacara pernikahannya pada tanggal itu juga. Jadi, total ada sepuluh pasangan pengantin yang menikah pada saat itu. Seharusnya 12 pasang, namun dua lagi memilih untuk memundurkan hari pernikahannya. Satu pasangan memilih untuk memundurkan upacara pernikahannya sehari setelahnya, yakni pada tanggal 27 Maret 2008. Satu pasangan lain lagi, memilih memundurkan upacara pernikahannya pada tanggal 10 April 2008.

Seperti didesa-desa di Bali pada umumnya, setiap ada salah satu warga desa yang menghelat acara pernikahan, sudah barang tentu sanak keluarga serta warga desa yang ada disekitarnya turut bergotong-royong membantu persiapan acara. Terutama dalam aktivitas yang disebut sebagai “Mebat”, yakni kegiatan menyembelih hewan, seperti babi, ayam dan bebek, untuk diolah dagingnya menjadi masakan tradisional ala Bali, seperti babi guling, lawar, jukut ares, sate dan lain sebagainya. Sebagian masakan tradisional ini nantinya digunakan sebagai pelengkap sesajen upacara pernikahan. Sebagian lainnya dibagikan kepada para tamu yang datang, lazimnya disebut sebagai “Balesan”. Sebagian kecil dibagikan kepada perangkat desa, baik desa adat maupun desa dinas, yang biasanya disebut sebagai “Jauman”.

Kegiatan “Mebat” ini tidak hanya dilaksanakan ditempat pihak mempelai laki-laki berada saja, terkadang juga ditempat pihak mempelai perempuan berada. Khusus untuk kegiatan “Mebat” ditempat pihak mempelai perempuan, biasanya masakan yang dibuat untuk suguhan bagi pihak keluarga laki-laki beserta sanak kerabatnya yang akan datang mengantarkan kedua mempelai untuk memohon doa restu keluarga dan sanak kerabat mempelai perempuan. Prosesi ini disebut sebagai “Metampiang”. “Tampi” secara harfiah bisa diartikan sebagai terima. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai pertanda bahwa pihak keluarga mempelai perempuan secara sepenuhnya telah menerima dan merestui anak gadisnya diperistri oleh sang mempelai laki-laki. Ini merupakan pemungkas keseluruhan prosesi pernikahan secara adat Bali.

Namun tidak semua upacara pernikahan dipungkasi oleh prosesi “Metampiang”. Hanya upacara pernikahan yang diawali oleh prosesi “Ngidih” [Meminang] yang diakhiri oleh prosesi “Metampiang”. Pernikahan bagi pasangan yang menikah secara “Mlegendang” atau yang dalam bahasa Indonesia dikenai dengan istilah “kawin-lari”, tidak dipungkasi oleh prosesi “Metampiang” ini. Namun bukan serta-merta itu berarti pihak mempelai perempuan tidak merestui pernikahan kedua mempelai, sebab konsep “Mlegendang” atau “kawin-lari” dalam adat Bali, tidak selalu dilakukan oleh pasangan yang tidak disetujui oleh orangtua mempelai perempuan. Terkadang walaupun orangtua mempelai wanita sebenarnya setuju dan merestui anak gadisnya diperistri oleh mempelai laki-laki, tetap saja pernikahannya keduanya dilakukan secara “Mlegendang”. Ini biasanya dilakukan untuk menyiasati supaya biaya upacara pernikahan bisa dihemat sedemikian rupa.

Prosesi “Metampiang” ini harus disadari berlatar belakang adat-istiadat Bali dengan pengaruh kental dari ajaran Hindu. Sehingga bila orangtua mempelai perempuan berlatar agama non-Hindu atau walaupun orangtua mempelai perempuan beragama Hindu namun bukan berasal dari Bali, misalnya penganut Hindu dari suku Jawa atau penganut Hindu Kaharingan, prosesi “Metampiang” ini biasanya tidak perlu dilakukan.

Setelah hampir delapan tahun absen dalam aktivitas sosial semacam ini, akhirnya saya “turun-gunung” juga. Ada lebih dari sepuluh tempat yang melaksanakan kegiatan “Mebat” pada dinihari tanggal 26 Maret 2008. Terbayang betapa sibuknya para warga desa dikampung halaman saya pada saat itu. Saya sendiri datang ke lima tempat “Mebat” yang berbeda. Walaupun hanya selama selang waktu sepeminuman kopi, untuk kemudian undur diri dengan alasan bahwa saya harus datang juga ke kegiatan “Mebat” ditempat sepupu saya.

Lazimnya kebiasaan orang-orang dikabupaten saya, Karangasem, setiap kegiatan “Mebat” selalu diakhiri dengan acara “Megibung”. Yakni semacam acara makan bersama. Nasi dan segala lauk-pauknya diletakkan dalam satu wadah tertentu, yang biasanya dikelilingi oleh 4-5 orang, untuk disantap secara bersama-sama. Sehabis “Megibung”, sesuai kebiasaan ala Karangasem, biasanya disediakan beberapa botol suguhan minuman tuak. Tentu saja acara minum tuak ini tidak akan lengkap bila tidak disertai “Magenjekan”, sejenis kesenian akapela tradisional ala daerah Karangasem. Beberapa orang menyanyi, yang lain mengiringi dengan musik yang keluar dari mulut mereka. Konon kesenian ini diilhami oleh suara nyanyian kodok dimalam hari.

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menikmati hal semacam ini. Apalagi mendengarkan humor bersahaja dengan selera ala masyarakat Padangbai serta saling berbalas ejekan dan hinaan lucu kepada setiap orang. Sungguh rasanya seakan-akan berpuluh-puluh tahun tidak pernah mengalami ini semua. Maklumlah, sewaktu kuliah di Surabaya, saya jarang pulang kekampung halaman. Paling hanya setiap liburan semester, dan biasanya tak lebih dari seminggu saya berada dikampung halaman. Sepertinya saya menemukan kembali selera humor saya yang pernah hilang.

Tiga hari seusai upacara pernikahan secara agama Hindu serta adat Bali, pada tanggal 29 Maret 2008 sepupu saya menggelar resepsi pernikahannya. Kali ini saya mendapat tugas menemani para tamu untuk sekedar berbincang ini dan itu. Kebetulan saya banyak mengenal teman-teman sepupu saya ini, terutama teman-temanya sewaktu kuliah dijurusan Teknik Lingkungan ITS. Dari jam sepuluh pagi, acara baru selesai sekitar jam delapan malam, itupun masih ada beberapa tamu yang datang setelahnya.

Setelah lelah seharian, ternyata kesibukan masih belum juga berhenti. Tradisi untuk berziarah kemakam keluarga dikala Hari Cing Big tiba telah menanti. Pagi hari tanggal 30 Maret, saya sekeluarga berziarah kemakam keluarga yang ada dikompleks pekuburan Cina di Tegal Linggah, Klungkung. Kemudian pagi hari tanggal 31 Maret 2008, kami berziarah kemakam keluarga dikompleks pekuburan Cina yang ada didesa Padangbai.

Kemudian april menjelang lalu melewati bulan mei. Tapi tetap saja saya masih jarang menyerhakan tulisan saya diblog ini. Usut-punya usut, satu penyebab yang pasti adalah saya tidak bisa menemukan kemana raibnya flashdisk saya yang lama, yang biasa saya gunakan untuk menyimpan tulisan sebelum saya bawa ke warnet untuk dimasukkan ke blog. Untunglah beberapa hari yang lalu saya mempunyai kesempatan untuk membeli sebuah flashdisk yang baru. Walhasil saya jamin saya akan lebih sering menulis di blog ini.

Hipnotis dan Penipuan

May 26th, 2008

Hari rabu, tanggal 21 Mei 2008, kemarin saya pulang kekampung halaman di Padangbai. Walau terpaksa harus membolos dari kantor. Keesokan harinya, hari kamis, kami sekeluarga berencana pergi ke Nusa Penida untuk bersembahyang di Pura Penataran Ped. Kebetulan juga hari kamis itu adalah hari otonan (hari kelahiran berdasarkan weton) saya.

Kami terpaksa membatalkan rencana kepergian kami karena tidak ada satu pun speedboat yang mau berangkat hari itu, walau ada banyak penumpang yang juga memiliki tujuan sama dengan kami. Ini disebabkan oleh kencangnya angin yang berhembus dan kondisi ombak dilaut yang tidak bersahabat.

Sekitar jam 12.30 siang, tak ada pilihan lain bagi saya untuk memejamkan mata dan tertidur. Kemudian sekitar jam 5.00 sore, saya dibangunkan oleh sepupu saya. Ada orang beli pulsa ditoko sebesar Rp. 4 juta, tapi tidak mau bayar! Wow!!! Dengan mata yang masih merah, mirip Kyo, saya berlari ketoko.

“Mas, ayo cepat lunasi uang pembelian pulsanya. Situ mau menipu ya?”
“Demi Allah saya tidak menipu. Ini saya disuruh bos saya untuk membelikan pulsa buat anak-anak buahnya. Ini duitnya ada ditas pinggang saya” katanya sambil memperlihatkan tas pinggangnya yang menggembung.
“Ayo cepat bayar! Kalau tidak saya laporkan polisi!” ancam saya.
“Silahkan saja laporkan ke polisi saya tidak takut! Demi Allah, nanti pasti saya bayar.”

Melihat gelagatnya yang hendak melarikan diri, langsung saya pegang kerah bajunya. Buk! Buk! Dua bogem mentah saya melayang keperutnya. Aneh dia tidak meringis kesakitan, malah tersenyum. Saya rampas tas pinggangnya, sialan, hanya ada selembar uang lima ribuan. Lagi-lagi tinju saya melayang, kali ini kedadanya. Dan tetap saja reaksinya hanya tersenyum. Apa orang ini sudah sinting?

Lalu datang ibu saya bersama dua orang polisi. Dia diringkus, diborgol dan digelandang ke kantor KPPP. Dalam perjalanan kekantor KPPP, saya masih sempat melayangkan bogem saya kemukanya, walau mengakibatkan polisi yang meringkus keduanya membentak saya. Gila, lagi-lagi reaksinya hanya tersenyum.

Dikantor KPPP, orang ini meracau dengan tidak karuan. Saya pikir hanya coba-coba berkelit mencari alasan, berpura-pura menjadi orang gila. Dan yang paling saya benci adalah ketika ia mengulangi perkataan “Demi Allah” berulangkali. Saya tampar pipinya. Adik saya yang perempuan juga ikut menendang kakinya. Hehe… kompak! Ibu saya datang berusaha menenangkan saya

“Jangan pukuli orang itu kasihan. Ia langganan ibu. Mungkin tadi ia dihipnotis lewat handphone. Ibu tadi dengar percakapannya ditelepon, ia dijanjikan hadiah oleh seseorang.”

Kemudian orang itu digelandang keruangan untuk diinterogasi. Pakaiannya dilucuti karena ditakutkan ia membawa jimat, mengingat beberapa pukulan keperutnya hanya dibalas dengan senyuman.. Amarah saya masih tidak tertahan, lalu diam-diam saya masuk keruangan itu. Sambil komat-kamit saya mengucap, “Om Ang Namah, Om Ung Namah, Om Mang Namah”, lalu saya tampar kepalanya. Tidak begitu keras, tapi ternyata cukup efektif menyadarkannya, walau dengan begitu saya diusir dengan kemarahan oleh petugas. Tapi mata saya masih merah, dan polisi-polisi itu tidak berani bertindak lebih pada saya.

Dan usut punya usut, ternyata orang ini memang benar ditipu dan terkena gendam. Ia diiming-imingi hadiah uang tunai sebesar 15 juta ditambah sebuah sepeda motor, Yamaha Vixion. Untuk mencairkan semua hadiah ini, ia harus menransfer sejumlah pulsa kenomor pribadi milik karyawan yang terlibat dalam pemberian hadiah tersebut.

Ia menerima telepon itu dari jam 1 siang, masuk ketoko sekitar jam 3 sore. Telepon tersebut baru terputus sekitar jam 5 sore, itupun karena dirampas oleh adik saya yang perempuan. Dan gendam atau hipnotis itu ternyata dilakukan via handphone. Saya pertama-tama tidak percaya. Tapi dari penjelasan ibu, adik, maupun sepupu saya, mau tidak mau saya percaya.

Harusnya orang ini tidak tertipu untuk membeli pulsa sedemikian banyak, mengingat adik dan ibu saya sudah memperingatkan bahwa ada kemungkinan ia ditipu. Ada banyak orang yang sudah diselamatkan oleh ibu saya dari penipuan hadiah semacam ini. Tapi sayangnya orang ini menolak.

Saya menyesal telah menganiaya orang ini. Maksud hati minta maaf, tapi orang ini malah berterimakasih pada saya karena telah menampar kepalanya. Ia bilang pengaruh gendamnya baru hilang setelah saya tampar kepalanya. Sebelumnya ia mengaku sedikitpun tidak merasa sakit ketika ia dipukuli oleh saya maupun oleh polisi. Dasar orang gila!

Ternyata pengaruh daya gendam atau hipnotis bisa sampai jauh itu? Kenapa ada orang yang tega melakukan hal sekejam itu? Dan semoga damai di bumi.

Apa kata Freud tentang Kegilaan Ini?

May 23rd, 2008

Konon kabarnya pikiran manusia dideskripsikan dalam tiga unsur. Pertama adalah “prinsip kesenangan” atau bisa disebut juga id. Yang kedua adalah realitas. Sedangkan yang terakhir adalah superego.

Ketika masih balita, kita menangis jika tidak mendapatkan susu. Begitu juga ketika kita ingin digendong dan dipeluk oleh ibu. Kita merengek ketika ingin dibelikan mainan atau permen. Jadi semenjak bayi kita telah membawa suatu ego imajiner berbentuk kesenangan dalam diri kita. Dalam istilah Sigmund F, ini disebut sebagai id. Id ini tetap ada dalam diri kita sampai kita tua.

Tapi tidak selamanya apa yang kita inginkan dapat terwujud. Kita ingin dibelikan sepeda, tapi sayang saat itu orangtua kita belum mempunyai cukup uang untuk membelinya. Walaupun kita telah lelah seharian menangis menjerit-jerit, kita tetap bisa mendapatkan sepeda. Fase-fase semacam itu adalah fase kita belajar untuk mengatur keinginan kita akan kesenangan dan menyesuaikannya dengan realita yang ada. Disadari atau tidak, kita mulai mengembangkan ego yang berfungsi sebagai pengatur itu. Kita mungkin menekan semua keinginan-keinginan itu dan menyingkirkannya.

Lalu ada superego. Sejak kecil kita selalu dihadapkan pada berbagai tuntutan moral baik dari orangtua kita maupun masyarakat. “Jangan lakukan itu!”, “Jangan seperti itu!”, dan “Seharusnya kamu begini!”. Sampai tua pun kita akan menghadapi tuntutan moral semacam itu. Seolah-olah harapan moral dunia itu telah menjadi bagian dalam diri kita sendiri. Inilah yang disebut superego. Ego yang berasal dari luar diri kita namun berpengaruh besar terhadap diri kita.

Superego inilah yang memberitahu kita baik dan buruknya serta pantas atau tidaknya keinginan yang kita miliki. Lebih khusus superego ini memelihara apa yang disebut sebagai perasaan bersalah dalam diri kita.

Kembali menurut Sigmund F, kesadaran hanya mengisi sebagian kecil dari pikiran manusia. Kesadaran itu ibarat puncak gunung es yang muncul dipermukaan laut. Dibawah permukaan laut, kita akan menemukan pinggang dan kaki gunung tersebut. Dengan kata lain, dibawah ambang batas kesadaran manusia ada lubuk hati atau bawah sadar.

Dan apa sesungguhnya “bawah sadar” itu? Dalam istilah Pak Sigmund, bawah sadar merupakan berbagai hal yang telah kita tekan dan kita usahakan untuk melupakannya sebab hal-hal tersebut mungkin “tidak pantas”, “tidak menyenangkan”, “menjijikkan” maupun “mengerikan”.

Ketika keinginan atas suatu kesenangan ini berseteru dengan realitas yang ada dan tidak dapat diterima oleh kesadaran kita, maka superego akan membuang jauh-jauh keinginan itu dari pikiran kita. Mungkin kata yang lebih tepat adalah memendamnya dalam-dalam, sebab kita tidak mungkin membuang sesuatu keluar dari pikiran kita seperti halnya kita membuang sampah. Sewaktu-waktu keinginan semacam itu akan menemukan jalan tersendiri untuk muncul kembali dari pikiran kita.

Dan apa kira-kira yang akan terjadi keinginan-keinginan semacam itu banyak terpendam dalam pikiran kita sementara kita terus-menerus berusaha menekannya semakin keras agar ia tidak kembali? Dalam porsi ringan, kita tanpa sadar mungkin mengatakan atau melakukan sesuatu hal yang sebenarnya tidak kita niatkan. Dalam porsi yang lebih berat, maka datanglah penyakit seperti yang saya derita ini. GILA, SINTING, GENDENG, EDAN, SEDENG, dan KURANG WARAS. 1

Seperti yang telah saya katakan dalam tulisan sebelumnya, bahwa banyak kawan saya, dan mungkin juga anda, menganggap saya ini GILA. Tentu saja saya menerima saja apa yang mereka katakan dengan sedikit nada ironi dalam hati. Ya, tentu saja ada sedikit ironi berkecamuk. Apa pasalnya?

Pertama-tama saya akan bertanya pada anda, apakah anda ORANG GILA? Jika anda menjawab bukan atau tidak, silahkan lanjutkan membaca tulisan dibawah ini.

Saya, dan mungkin juga anda, pastilah pernah sesekali atau beberapa kali bertemu dengan orang GILA yang berkata bahwa dirinya bukan orang GILA. Jika anda memiliki sedikit keisengan, cobalah bertanya pada ORANG GILA, apakah dia GILA? Saya yakin, ia akan menjawab bahwa ia bukan ORANG GILA.

Jadi kesimpulan yang bisa didapat disini adalah tiap-tiap ORANG GILA tidak pernah mengakui bahwa dirinya GILA. Bila ada orang berkata bahwa dirinya GILA, sesungguhnya ia bukanlah ORANG GILA. Namun sebaliknya, bila ada orang yang ditanya apakah dirinya GILA dan menjawab bahwa ia bukan ORANG GILA, dapat dipastikan bahwa ia adalah ORANG GILA.

Jadi siapakah yang sesungguhnya GILA? Saya ataukah anda?

Notabene :
1 Disini titik perhentian pesan buat pasangan Pakar Gendam dan Mitha. Agar keponakan saya dapat dijaga dengan baik oleh mereka supaya kelak tidak menjadi gila seperti pamannya ini.
Boleh juga untuk pasangan Anton Mujahir dan Lode Gurami, bila mereka mengakui saya sebagai paman dari anaknya.

Layanan Hosting dan Domain Gratis

May 20th, 2008

Tak dinyana sudah setahun blog ini eksis diblantika blogosfer Indonesia. Laksana bayi, blog ini sedang belajar untuk berdiri dan berjalan tertatih guna memantapkan langkahnya dimasa depan. Sedang belajar mengucap erangan kata yang lebih jelas, agar tak hanya terdengar rengekan kata “mama’ dan “papa”. Setahun berjalan, segudang pertanyaan menyeruak. Sampai kapan blog ini sanggup menghembuskan nafas kehidupannya didunia maya?

Tanpa iklan ataupun penghasilan yang jelas, tentunya otak ini harus dipaksa berpikir untuk menutupi segala ongkos sewa domain dan hosting agar blog ini tetap eksis didunia maya. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Entah kenapa tiba-tiba datang surat elektronik dari seseorang yang tak jelas siapa juntrungnya. Surat elektronik yang menawarkan layanan hosting dan domain gratis khusus bagi blog ini selama 2 (dua) tahun kedepan. Dikatakannya pula, ia mengetahui alamat surat elektronik saya serta kapan masa berakhir sewa hosting dan domain saya ini dari whois.sc.

Diawal timbul pemikiran, mungkin itu hanya olok-olok belaka sebab momen April Mop segera menjelang. Tapi kedatangan surat elektronik berikutnya sedikit memupus kegalauan. Dia hanya menyatakan salut atas tekad saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam tulisan-tulisan saya. Dan menurutnya, sungguh teramat sayang bila blog ini ternyata harus ditutup akibat tidak mampu membayar uang sewa.

Haram jadah …!!! Apa makhluk ini berpikir saya tidak mampu membayar uang sewa domain dan hosting ini? Hewan apa yang begitu baik hati memberikan domain serta hosting gratis untuk setiap keisengan dan kesintingan yang saya tulis disini?

Dan ternyata ia membuktikan semua omongannya. Memang saat ini hosting yang diberikan hanya sebesar 200 Mb dengan kapasitas bandwith sebesar 2 Gb. Tapi ia berjanji, bila kelak saya memerlukan tambahan kapasitas hosting dan/atau bandwith untuk blog ini, ia akan memberikannya. Tentu saja secara cuma-cuma alias gratis.

Tak ada kata lain yang sanggup terucap, selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya pada anda yang telah memberikan sewa domain serta hosting blog ini secara gratis kepada orang sinting nan iseng ini. Tapi entahlah, saya tiba-tiba mencurigai Ken Reidy sebagai aktor intelektual dibalik semua ini.

Kenapa Sinting dan Iseng

May 20th, 2008

Pada dasarnya saya sudah terbiasa untuk hidup menjadi seorang yang aneh dan sinting diantara manusia-manusia yang mengaku dirinya normal. Layaknya Chairil Anwar dalam “Aku”; “Aku adalah binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang”. Entahlah, diantara semua hal yang biasa pada setiap manusia, bukannya memilih untuk menjadi yang luar biasa, saya lebih memilih untuk menjadi yang tidak biasa. Karena saya sadar bahwa saya tidak memiliki apapun untuk menjadi luar biasa.

Ketika orang-orang berjuang dan berusaha keras untuk menjadikan blognya sebagai ladang usaha, berlomba-lomba untuk mencari pemasukan lewat iklan, saya memilih untuk tidak melakukannya. Entahlah, saya tidak ingin memasang iklan apapun diblog ini. Walaupun dulu saya pernah sesekali memasangnya, namun untuk kedepannya saya berusaha untuk tidak memasang iklan apapun disini. Kecuali jika pihak Google mengizinkan iklannya dipajang dalam blog yang menggunakan bahasa Indonesia. Dan hendaknya kawan-kawan saya semua memahami jalan yang saya pilih. Jangan menjadi keparat dan bedebah macam orang ini, yang mencoba memasang iklan disini dalam bentuk komentar. Jangan pula menjadi bangsat macam makhluk ini, yang memasang jebakan “Hot Linking” kesini.

Disaat orang-orang memilih layanan blog hosting tak berbayar macam, Wordpress, Blogger, Xanga dan lain-lain, sebagai tempat blog mereka, saya memilih menggunakan jasa hosting berbayar sebagai tempat blog saya. Walaupun saya menggunakan perangkat Wordpress sebagai sistem pengelolaan yang saya gunakan diblog ini, yang mengharuskan saya untuk mempunyai akun di wordpress.com guna mengaktifkan perangkat Akismet untuk mencegah banyaknya komentar sampah yang masuk, namun entahlah saya enggan untuk memasukkan artikel diakun wordpress.com saya.

Tatkala orang-orang berlomba-lomba untuk melecehkan bahasanya sendiri, dengan memilih menggunakan “bahasa gaul” untuk menuliskan setiap artikelnya ataupun menggunakan bahasa Inggris dengan harapan akan ada banyak iklan yang bisa ditayangkan, saya memilih untuk menuliskan artikel-artikel saya dalam bahasa Indonesia dengan kaidah yang baik dan benar. Walaupun untuk menulis artikel dengan mengikuti kaidah bahasa Indonesia terkadang sulit untuk dilakukan.

Sebagai makhluk berakhlak nan waras, tentu saja kawan-kawan semua tidak ingin mengikuti jejak saya bukan. Karena, terutama sekali, ada sensasi luar biasa terasa ketika mendapati kenyataan bahwa saya berbeda dibanding dengan lainnya. Karena saya sudah bosan dianggap sebagai makhluk istimewa sejak kecil oleh orang-orang disekitar saya. Karena ada hikmah yang saya dapati dibalik semua ketidakbiasaan saya. Karena … … ssstttt … … saya diberi domain dan hosting gratis selama 2 (dua) tahun gara-gara kesintingan dan keisengan saya ini.

Dan Damai di Hati

April 28th, 2008

Hidup selalu mengalami siklus. Ketika siklus itu bergulir, selalu ada gejala-gejala sosial tertentu yang menjadi fenomena dan menjadi gaya hidup alias trend, yang memberi warna di sepanjang lajunya. Kita masih ingat, pada tahun 70-an ada trend celana cut-bray, akhir 80-an ada trend petrus (penembakan misterius), kemudian dekade 90-an awal ada demam sepeda, disusul trend orang hilang pada saat reformasi bergulir, lalu ada trend sars dan flu burung, trend markus (makelar kasus) terakhir kita dengar ada trend bencana alam yang melanda kepulauan Indonesia. Bahkan teror pun sempat menjadi trend.

Kehidupan beragama pun mengalami gejala ini. Saat ini perkembangan sampradaya-sampradaya Hindu di Indonesia menjadi sebuah gejala sosial dalam masyarakat Hindu. Sisi positif yang bisa kita peroleh, bahwa kesadaran minat masyarakat untuk mendalami ajaran Hindu makin berkembang.

Namun kata pepatah, di manapun Rwa Bhineda itu pasti ada. Berbicara masalah keyakinan, selalu akan berujung pada believe it or not. Telur ayam tidak selalu menetas, menjadi anak ayam. Terkadang ia berakhir di kuali, menjadi telur dadar, atau bahkan terkadang berakhir di wajah seorang politisi yang di-persona non grata-kan oleh masyarakat.

Suatu hari seorang teman pernah bercerita, sebut saja namanya Tantri, bahwa ia tidak berani pulang karena seorang ”misionaris” sampradaya berkunjung ke rumahnya. Bahkan ia selalu berpura-pura tidak ada di rumahnya jika si ”misonaris” tersebut menelepon. Jika ada slogan ”say no to drugs” untuk kampanye anti penggunaan narkoba, mungkin ini slogan baru, ”say no to sampradaya”.

Mungkin terlalu dini untuk menyebut hal ini sebagai gejala sosial. Tapi apa yang salah dengan sampradaya-sampradaya tersebut? Apa yang menyebabkan masyarakat alergi terhadap sampradaya-sampradaya tersebut? Walaupun teramat tidak etis untuk tidak menyebut apa yang kita yakini terhadap ajaran Hindu juga merupakan salah satu bentuk sampradaya, namun sampradaya yang saya maksud disini adalah bentuk apapun yang dipandang sebagai sampradaya saat ini di Indonesia.

Kata Hegel, untuk mencari sintesa, kita terlebih dahulu harus menemukan tesa dan antitesa-nya. Dalam beberapa pembicaraan dengan kawan-kawan yang mengidap penyakit yang sama dengan Tantri, saya menemukan kecenderungan bahwa sikap antipati ini disebabkan oleh beberapa pemikiran-pemikiran dari kawan-kawan sampradaya yang terlalu provokatif dan bahkan sering memojokkan beberapa sisi religi yang mereka jalani selama ini dengan cara yang ekstrim.
Begitu luasnya kandungan nilai-nilai religi yang terdapat dalam Hindu sehingga dalam menginterpretasikannya diserahkan pada masing-masing individu, kembali lagi, believe it or not. Masalah agama, adalah masalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Memang dibutuhkan sebuah bimbingan dan renungan dalam meresapi nilai-nilai ajaran Hindu, namun apakah ini harus dilakukan dalam bentuk paksaan atau seperti yang dilakukan oleh salah satu sampradaya terhadap Tantri dan kawan-kawan, ini yang harus dipertanyakan. Apakah Hindu itu sebuah agama misi?

Coba kita berkaca pada novel ”Dan Damai di Bumi!”, karya Karl May. Dengan setting cerita pada masa invasi misionaris-misionaris Kristen ke dunia timur, May coba mengajak kita untuk merenungkan kembali sikap fanatisme dalam kehidupan beragama kita. Interaksi yang terjalin antara May yang Kristen, Seijjid Omar yang muslim, Tsi dan pamannya yang konfusianis, dan Waller sang misionaris dan Marry putrinya , di awal cerita, sungguh memberikan cerminan terhadap sikap fanatisme dalam kehidupan keagamaan kita. Di akhir cerita mereka tetap pada keyakinan masing-masing, namun bersatu dalam ”Shen”, demi terciptanya perdamaian dunia.

Kutipan puisi May dalam novel tersebut, mungkin dapat kita renungkan maknanya :

Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,
Jadikanlah ia perlambang damai antarumat,

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah kasih semata,
Segala hal yang lain tinggalkan di rumah.
Justru karena ia pernah berkorban nyawa,
Melalui dirimu kini ia mengasihi selamanya.

Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Hayati dan sebarkanlah tanpa ragu
Jadikanlah dunia sebagai rumah- ibadah
Tempat ajaranNya berkumandang merdu

Berikanlah kasih-sayang semata-mata
Agar denyutnya mengalir ke semua negara
Maka dunia ’kan menjadi rumahNya
Dan kembali menjelma sebagai Taman Firdaus!

Sejatinya puisi lebih ditujukan pada misionaris-misionaris Kristen pada saat itu. Ini dapat kita lihat baris ketiga, bait kedua puisi di atas, yang berbunyi ”justru karena ia pernah berkorban nyawa”, siapa lagi dia, jika bukan Yesus Kristus sang Mesiah. Bagaimana jika May seorang Hindu dan masih hidup pada saat ini. Mungkin saja puisi ini akan ditujukan pada ”misionaris-misionaris” sampradaya.

Namun terlepas dari semua itu, satu pesan moral yang hendak disampaikan May dalam novel ini, patut kita cermati. Bahwa apapun bentuk keyakinan kita terhadap agama kita (dalam hal ini Hindu), haruslah dapat membuat kita bersatu demi mewujudkan kedamaian (santhi), baik di hati maupun di bumi. Walaupun untuk menciptakan kedamaian di bumi sangat susah, setidaknya tercipta kedamaian di hati. Kedamaian di hati umat Hindu yang resah terhadap keberadaan sampradaya di Indonesia.

Dan sudah seharusnyalah kita berkaca pada sejarah Kristen di masa lalu yang berawal dari terbentuknya ordo-ordo seperti Benediktin, Fransiskan dan sebagainya, kemudian ”terpecah” menjadi Kristen Katolik, Protestan, Ortodoks Syria dan lain-lain. Islam sepeninggal Muhammad, yang ”terbagi” dalam dua mainstream besar, Suni dan Syiah. Lihat pula bagaimana mereka ”terpecah” hingga menciptakan mazhab-mazhab seperti Wahabi, Salafi, Hanafi, dan masih banyak yang lainnya. Bagaimana ajaran Budha ”terpecah” menjadi Mahayana, Hinayana, Nichiren Sosyu, Sangha Teravada, dan lain-lain. Lihat pula sejarah Empu Kuturan menyatukan umat Hindu di Bali lewat konsep Kahyangan Tiga-nya.

Satu pertanyaan yang dapat saya ajukan disini kepada para kompatirot saya yang seagama yang terhormat, apakah kita hendak membiarkan Hindu mengalami perpecahan?